Rabu, 10 Desember 2014

Nurhidayat Poso

Penyair kelahiran 5 Mei 1960 di Kota Tegal itu, memulai karier dari teater dan menulis puisi. Pada 1987, ia salah satu dari 87-an penyair yang diundang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam Forum Puisi Indonesia 87.
Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, dan esai dimuat media Jakarta dan daerah seperti Berita Buana, Horison, Merdeka Minggu, Suara Merdeka, dan lain-lain.

Rabu, 08 Januari 2014

Dwi Ery Santoso

Dwi Ery Santoso (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 21 September 1957; umur 56 tahun) adalah salah satu tokoh teater di Jawa Tengah. Ikut membidani berdirinya Teater Puber. Aktif berteater sejak masih di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Tegal. Selain itu dia juga menulis puisi. Karya-karyanya banyak termuat di media massa.
Setelah hengkang dari Teater Puber, ia melanjutkan kiprahmya di Teater Massa Hisbuma dan meraih prestasi sepuluh besar dalam Festival Teater Nasional, memperebutkan Trophy Ibu Tien Suharto di Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta Selatan lewat lakon Surabaya Berguncang, karya Haryo Guritno (1985). Beberapa kali mengikuti Festival Teater Jawa Tengah di PKJT Taman Budaya Surakarta dalam lakon: Pelangi Sajeroning Ati sebagai penulis naskah dan Sutradara, dengan prestasi sebagai Penyaji Terbaik 3 (1997), Apologi Senja Hari sebagai penulis Naskah dan Sutradara, meraih prestasi sebagai Penyaji Harapan (1999), Martoloyo–Martopuro karya Eko Tunas sebagai Sutaradara terbaik 1, Aktor Pembantu Putra terbaik 1, Artistik terbaik 1 dan Penyaji Grup terbaik 2 (2002).
karya ;
Antologi Puisi Nelayan–Nelayan Kecil terbitan Teater Massa Hisbuma (1997)
Antologi Puisi Muara Bercahaya terbitan Teater Massa Hisbuma (2005)
Kumpulan Puisi Tegalan Brug Abang terbitan Dewan Kesenian Kota Tegal (2007)
Parade Puisi Tiga Kota: Tegal, Jogya, dan Jakarta Bersama Emha Ainun Najib, Yoyik Lembayung dan Eko Tunas (1985)
Antologi Jentera Terkasa dalam Pasar Puisi 2000 Terbitan DKJT DAN Taman Budaya Surakarta.
Antologi Puisi Juada Pasar bersama 52 penyair Tegal, terbitan Dewan Kesenian Kota Tegal (2002).
Antologi Puisi dalam rangka Khaul 1000 hari wafatnya Piek Ardijanto Soeprijadi (2004).
Kumpulan Puisi ”Mimbar Penyair Tegal (2005).
Antologi Puisi Potret Reformasi Dalam Puisi Tegalan Terbitan Koran Tegal-Tegal (2000).
Kumpulan Puisi Tegalan Ngambah Paran, Terbitan Komunitas Sastra Tegal (2007)
penghargaan :
Apologi Senja Hari, Naskah Terbaik1 Lomba Penulisan Naskah Drama Tingkat Jawa Tengah (2007)
Cahaya Cahaya, Juara 1 Cipta Naskah Monolog tahun (2005)
Penyaji Terbaik 3 dalam lakon Pelangi Sajeroning Ati sebagai penulis naskah dan Sutradara (1997)
Penyaji Harapan dalam lakon Apologi Senja Hari (1999)
Sutradara Terbaik 1 dalam lakon Martoloyo–Martopuro karya Eko Tunas (2002).

Nana Riskhi Susanti

Nana Riskhi Susanti (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 2 Oktober 1990; umur 23 tahun) adalah salah seorang sastrawati Indonesia yang mengawali debutnya di usia muda. Sejak duduk di SMA Nana sudah menulis puisi, cerpen, dan artikel seni-budaya. Berbagai penghargaan juga pernah dia terima, dari tingkat daerah hingga tingkat Asia Tenggara. Nana menyelesaikan kesarjanaannya di Unnes pada tahun 2011, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan predikat cum laude
Selama perkuliahan, Nana aktif bergiat di bidang kesusastraan melalui pertunjukan seni baca puisi, menulis artikel-artikel sastra dan perempuan, menulis puisi, dan mengikuti berbagai perlombaan yang diselenggarakan di berbagai tingkatan. Oleh karena konsistensinya di bidang bahasa, Nana menerima kepercayaan sebagai Duta Bahasa Jawa Tengah dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Saat ini Nana tengah menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Universitas Indonesia pada jurusan Susastra sembari bekerja sebagai reporter untuk program Potret Liputan 6, SCTV. Waktu luangnya dihabiskan untuk mengasuh Sekolah Cinta Bahasa dan berbicara di berbagai seminar kebudayaan.
60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 Anugerah Sastra Pena Kencana sebagai Penyair Nominator. (Gramedia, 2009).
Aku Ingin Mengirim Hujan. (Kumpulan Puisi Dewan Kesenian Semarang, 2008).
Anak-Anak Peti. Kumpulan Puisi. (Komunitas Sastra Indonesia Cab. Ungaran, 2009).
Persetubuhan Kata-Kata. (Kumpulan Puisi Penyair Jateng 5 Kota. Taman Budaya Jateng, 2009).
Tuah Tara No Ate (kumpulan cerpen dan puisi Temu Sastrawan Indonesia IV, Ternate, 2011)
Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Medali Emas Tangkai Lomba Baca Puisi (kategori putri) pada Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional (Peksiminas) X, Pontianak, 2010.
Medali Perak Tangkai Lomba Penulisan Puisi pada Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional (Peksiminas) X, Pontianak, 2010.
Medali Emas pada Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKMGT) dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXII 2009 di Universitas Brawijaya
Terbaik III Lomba Menulis Surat Buat Presiden dan Wakil Presiden Terpilih (2009-2014) tingkat Nasional Kategori Pelajar/Mahasiswa dengan surat berjudul Toko Batik Online dn Desa Wisata untuk Indonesia
Terpilih sebagai 20 duta terbaik penulisan esai nasionalisme tingkat nasional yang diadakan Tempo Institute, dengan esai berjudul Wanurejo, The Sense of Java ( Sebuah Model Pengembangan Desa Wisata di Indonesia)
Duta Bahasa Jawa Tengah tahun 2009
Duta Bahasa Indonesia Tingkat Nasional (Bidang Pembinaan Bengkel Sastra Nusantara) Tahun 2009
Peraih Piala Rendra (Juara 1 Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional) Tahun 2009.
Aktris Terbaik Festival Monolog Tingkat Nasional tahun 2006.
Juara 1 Lomba Baca Puisi Tingkat Umum Se-Jawa Tengah, Dewan Kesenian Jawa Tengah, tahun 2006-2009.
Juara 1 Lomba Fotografi Bertema “Potret Pendidikan Dalam 10 Tahun Reformasi” tahun 2008.
Penyaji Hasil Penelitian Tingkat Nasional pada Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian pada PIMNA XXI 2008.
Penyair Muda Terbaik Versi Komunitas Salihara tahun 2009.
The Best of The Best Declamator pada Festival Baca Puisi tingkat Internasional tahun 2007.
Nominator Penyair Terbaik pada Anugerah Sastra Pena Kencana 2009.
Penyair panggung terbaik II se-asia tenggara, 2011

NUROCHMAN SUDIBYO YS

Nurochman Sudibyo YS. Adalah pekerja seni dan budaya kelahiran Tegal 24 Januari 1963. Sejak sekolah di Taman Kanak-kanak TK. GUNTUR Karangturi Indramayu, sudah Nampak bakatnya dalam berdeklamasi. Bahkan saat duduk di SD Indramayu I (sekarang Margadadi V) hoby membaca buku sastra dan wayang purwa, semaki memperkuat bakat seni-nya. Saatitu ia semakin memperlihatkan kemajuan di seni menulis indah, menggambar, menyanyi di  membaca puisi sampai kemudian tamat SD tahun 1974. Sewaktu sekolah di SMP Negeri 2 Indramayu antara tahun 1974-1977 bakat seninya lebih terlihat menonjol di bidang seni rupa, menyanyi dan membaca puisi. Ketika pernah setahun sekolah di SMA Muhammadiyah Indramayu hanya terlihat bakat senirupanya saja. Demikian pula ketika pindah sekolah ke SPG PGRI ia mulai memperlihatkan kemenonjolan di bidang seni lukis, drama, dan membaca puisi.
Baru setelah diangkat sebagai guru sekolah dasar di tahun 1981-82 jiwa seninya kian diaktualkan untuk diri dan murid-muridnya. Ia kemudian mulai lebih spesifik menulis Puisi, cerpen, Esai, catatan perjalanan dan geguritan selain juga membuat banyak karya rupa ilustrasi dan dekorasi. Mas Noor atau Mas Dibyo pernah kuliah di FKIP D3 Bahasa dan sastra Inggris UNWIR Indramayu dan lulus S1 Th 2000 Guru Bahasa Indonesia UPI Bandung. Ia berhenti sebagai PNS Guru dan mulai total menggeluti Karya seni.

Sejak tahun 85-an karyaa sastranya telah dipublikasikan di berbagai media masa. Kumpulan Puisi Tunggalnya “Bawah Payung Langit” (1993), “Malam Gaduh” (1995), Soliloqui (1997) dan “Gerhana” (2000). Adapun Kumpulan Guritannya telah diterbitkan Medium Sastra & Budaya Indonesia diantaranya “Gurit Dermayon” (1995), “Perompak Indrajaya” (2000), “44 Gurit Dermayon” (2006),  “Godong Garing Keterjang Angin” (2007), “Blarak Sengkleh” (2008), “Bahtera Nuh” (2009), “Pring Petuk Ngundang Sriti” (2010). Kumpulan Puisi Basa Cerbon bersama Ahmad Syubanuddin Alwy; “Susub Landep” (2008), “Nguntal negara” (2009)  Dan “Gandrung Kapilayu (2010). Kumpulan Puisi Tegalan “Ngranggeh Katuranggan”(2009). Puisi-puisinya terkumpul dalam antologi bersama “Kembang Pitung Werna” (1992), “Kiser Pesisiran” (1994), Antologi Penyair Indonesia “Dari Negeri Poci” Th 1996, antologi puisi dan cerpen Indonesia modern “GERBONG” Yogyakarta (Th.2000), “Antologi Penyair Indonesia HUT Jakarta” (1999), Antologi “Lahir Dari Masa Depan” Tasikmalaya (2001). Antologi “Dari Negeri Minyak” (Th.2001), Antologi “Sastrawan Mitra Praja Utama” (2008). Antologi “Pangikat Serat Kawindra” (2010), dan Antologi “Perempuan Dengan Belati di Betisnya” Taman Budaya Jawa Tengah (2010). Sebagai sastrawan kini aktifitasnya tidak hanya di Indramayu namun juga menjadi motivator kesenian di berbagai darah baik di Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Slawi dan Pemalang.

Berkali tampil membacakan puisi dan menjadi  juri puisi di berbagai kota di pulau Jawa. Sejak awal tahun 2010 bersama Dyah Setyawati mementaskan lakon puisi secara berkeliling, dengan memadukan unsur tradisi guritan, tembang, suluk, wayangan dan tari, bertajuk “Pangikat Serat Kawindra”, “Kupu Mabur Golet Entung”, “Kembang Suket”, dan “Nagari Corong Renteng, Sedulur Papat Lima Pancer dan Oyod Ming Mang.”.  Penyair dan  dalang tutur wayang gondrong ini sejak tahun 1990 menjadi Ketua Medium Sastra & Budaya Indonesia. Beberapa kali diundang untuk mengikuti pertemuan sastrawan Nusantara baik di Brunai, Palembang dan Jambi. Thn 2012 ia diundang  dalam pertemua Sastrawan Indonesia di Makasar sekaligus diminta mementaskan Wayang Sastranya dalam iringan lagu-lagu tarling. Di tahun 2012 bersama groupnya Medium Sastra dan Budaya Indonesia untuk tampil di Penutupan Festifal Teater Indonesia di Galery Nasional. Dan pada tgl 28 November kemarin kembali Nurochman Sudibyo memperoleh Penghargaan Anugtrah Cipta Budaya 2013, dari Gubernur Jokowi melalui Kepala Dinas Parbud Prov Jakarta Drs. Ari Budhiman.

Meskipun teman-teman sastrawan di Indramayu selalu meledek karya puisinya dan dianggap mereka jelek, namun beberapa kali karya puisinya justru masuk karya terbaik di Festifas Sastra Cirebon.’94, Tasik’95, Bandung’96, Riau 96, Jakarta’99, Bali’10, Jakarta’10, Bogor’11, Yogyakarta’12, KSI’12, dan Festifal Lanjong Kalimantan’13.    
Sebagai ketua Medium Sastra & Budaya Indonesia, Nurochman Sudibyo YS menjelaskan bahwa: Lembaga seni budaya yang dipimpinnya lahir di Jl. Jendral Sudirman No.69 Indramayu Jawa Barat antara tahun 1990-1993 an. Sejak pertama didirikan intensitasnya melakukan kegiatan pelatihan penulisan/pembacaan karya sastra, penyelenggaraan even kesenian, pementasan teater dan penelitian seni budaya. Sejak mula lembaga ini menggunakan kata Indonesia sebagai bentuk keyakinan bahwa kelak apa pun yang digagas dapat menjadi suatu kekuatan baru dalam tatanan seni budaya bangsa, karena itulah lembaga ini dalam kiprahnya tak mau meniru selain harus terus berinovasi mencari bentuk-bentuk baru untuk seni budaya di Indonesia. Meski demikian kesekretariatannya tetap di Indramayu.

Salah satu ciri khas pentas pembacaan puisi produk Medium Sastra & Budaya Indonesia, selalu menggunakan gaya tutur teater rakyat “Sandiwara, dalang wayang dan Drama Tarling” khas Indramayu. Seni tembang klasik yang berasal dari tembang tayub dan kiseran dalam iringan gamelan itu kemudian bermigrasi dari gamelan ke gitar dan suling ini, hingga kini terus  bertahan menjadi kesenian yang khas dari Indramayu dan Cirebon atau lazim disebut Tarling. Namun demikian Medium Sastra & Budaya Indonesia hanya mengambil esensi besar pada Tarling yaitu pada unsur musik dan tembang saja, yang kemudian dipadukan dengan karya sastra baik berupa puisi jawa (gurit), suluk, tembang, kidung, jawokan serta parikan yang dipadukan dengan puisi berbahasa Indonesia.

Gaya pembacaan puisi yang khas ini semenjak tahun 80 an dimotori oleh Nurochman Sudibyo YS. Sejak itu setiap kali mengikuti lomba baca puisi selalu menjadi juara baik di daerah maupun di berbagai kota lainnya. Di mulai dengan membaca puisi dengan ilustrasi beriramakan suling khas Dermayu/Indramayu. Gagasannya ini kemudian menempatkannya sebagai Pemuda Pelopor bidang pembangunan seni budaya dan pariwisata tingkat Provinsi Jawa barat dan nominator ke  2 di tingkat nasional tahun 1996-1997.


Selanjutnya Nurochman Sudibyo YS pun dikenal dengan sebutan sastrawan yang menghasilkan karya puisi, cerpen, esai dan catatan budaya. Ia dikenal pula sebagai Pembaca Puisi Kiseran, karena setiap membacakan puisi selalu dihiasi dengan suluk, tembang dan jawokan gaya irama tarling kiseran. Karena sering di undang ke berbagai kota dan daerah, Sejak itu ia pun diberi gelar Ki Tapa Kelana. Posisinya selain pembaca puisi di berbagai even juga diminati masyarakat Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal sampai Bekasi, utamaya di minta memberi kidungan Dermayonan ditambah dengan pembacaan puisi. Lagi lagi irama pengiringnyapun live  gamelan, suling atau rekaman yang ada di memori HP, CD dan Mp3. Kiseran sendiri maknanya adalah ungkapan cerita dalam bentuk tembang bernuansa sastra yang mengemukakan perasaan suka maupun duka secara bebas dengan laras tarling irama kiser.

 Sejak tahun 2000 setiap datang hari ulang tahun Nurochman Sudibyo, MS&B melakukan Pentas Malam Pembacaan Puisi Multimedia di kota Indramayu yang saat itu biasa disebut pembacaan puisi kiseran. Meski tanggal kegiatannya 24 Januari dan bertepatan dengan musim penghujan, namun acaranya selalu sukses walau digelar  di luar gedung, bahkan beberapa kali dilakukan di tengah sungai Cimanuk dan sekitarnya. Diantara pentasnya antara lain; “Perompak Indrajaya 2001, Aja Mbluya-2002, Perang Potret-2003, Waduk Bojong-2004, Mak Njaluk Mangan-2005, Gurit ‘44-2006, Blarak Sengkle -2007, Godong Garing Keterjang Angin-2008, Bahtera Nuh -2009, dan Pring Petuk Ngundang Sriti-2010”, semua di gelar di Kota Indramayu di bantaran Kali Cimanuk. Selain pentas di agenda tahunan di tahun 2006 MS&B diundang untuk pentas “Negeri Cantik” di pembukaan Pameran seni lukis SP Hidayat di Musium Nasional Jakarta, dan di tahun 2008 Pentas “Negeri Para Pejuang” di pembukaan Pameran Tunggal seni lukis Karya Dirot Kadirah di gedung utama Galeri Nasional.

Mulai tahun 2010 hingga tahun 2013 banyak diundang pentas pembacaan Tarling Multimedia, diantaranya di Bojonegoro dengan Lakon Pangikat Serat Kawindra, di Kota Tegal dan Slawi dengan lakon yang sama Pangikat Serat Kawindra. Berikutnya diundang di Pentas sastra Kedai Lalang Jakarta dengan Lakon Pangikat Serat Kawindra, di Taman Siswa Yogyakarta dengan lakon Kupu Mabur  Golet Entung, di Komunitas Sastra Reboan dalam lakon Negeri Corong Renteng, di TIM dalam lakon Bintang Anak Tuhan, di Taman Budaya Surakarta “Pangikat Serat Kawindra”, di Indramayu “Kembang Suket”, di Pembukaan Art Semarang “Sintren Beken”, di Pasar Malam Jawa Tengah Semarang “Negeri Corong Renteng”, di Pati “Indonesia Kesurupan”, di PPIB kota Tegal “Sedulur Papat Lima Pancer”, di Cirebon “Tragedi Kurusetra”, di Pertemuan Sastrawan Nusantara Palembang “Negeri Corong Renteng”, di STSI Bandung “Negeri Corong Renteng” Pertemuan Sastrawan Makasar “Bersatu Pujangga Nagari Bhahari”, di Galeri Nasional “Sedulur Papat Lima Pancer”, Pembukaan Kongres Bahasa Jawa, di Surabaya dengan Lakon Negeri Corong Renteng,” di Slawi Kab. Tegal dipentaskan “Tumandhange Sinatria Bhayangkara”, dan berlanjut baru-baru ini menggelar pembacaan puisi Tarling Multi media dengan lakon: Puisi Menolak Korupsi dimulai di kota Blitar, Semarang, Surakarta, Jakarta dan Purworejo.

 Selain memenuhi panggilan pentas besar dan kecil, sesuai dengan kemajuan zaman Medium Sastra & Budaya Indonesia pun menyajikan bentuk pemanggungan pembacaan puisi dengan tetap beriramakan Tarling, meski kadang diiringi musik gamelan, orkes keroncong, dangdut, organ tunggal, bahkan berbagai musik modern lainnya. Disebut multi media karena dalam pentas pembacaan puisinya kerap kali menggunakan berbagai media sebagai kekuatan pendukung, seperti; wayang kulit, wayang golek, wayang suket, wayang tutus, wayang kertas, wayang padi, wayang ikan asin, topeng, dan dihiasi pula dengan berbagai jenis tari klasik, kontemporer, seni lukis, dan property visual lainnya. ***

Sekilas tentang MS&B
Medium Sastra & Budaya Indonesia, demikian Lembaga seni budaya ini lahir di Indramayu Jawa Barat di tahun 1994. Sejak pertama didirikan intensitasnya melakukan kegiatan pelatihan penulisan/pembacaan karya sastra, pementasan teater dan penelitian seni budaya. Sejak mula lembaga ini menggunakan kata Indonesia sebagai bentuk keyakinan bahwa kelak apa pun yang digagas dapat menjadi suatu kekuatan baru dalam tatanan seni budaya bangsa, karena itulah lembaga ini dalam kiprahnya tak mau meniru selain harus terus berinovasi mencari bentuk-bentuk baru untuk Indonesia. Meski demikian kesekretariatannya tetap di Indramayu.

Salah satu ciri khas pentas pembacaan puisi Medium Sastra & Budaya Indonesia, selalu menggunakan gaya tutur teater rakyat ‘Drama Tarling’. Seni Klasik yang bermigrasi dari gamelan ke gitar dan suling ini hingga kini masih bertahan menjadi kesenian yang khas dari Indramayu dan Cirebon. Namun demikian MS&BI hanya mengambil esensi besar pada Tarling yaitu pada unsur musik dan tembang yang kemudian dipadukan dengan karya sastra baik berupa puisi jawa (gurit), suluk, tembang, kidung, jawokan serta guritan yang dipadukan dengan puisi berbahasa Indonesia. Gaya pembacaan yang khas ini dimotori oleh Nurochman Sudibyo YS. Sejak tahun 80-an setiap kali mengikuti lomba baca puisi selalu menjadi juara baik di daerah maupun di berbagai kota lainnya. Di mulai dengan membaca puisi dengan ilustrasi beriramakan suling khas Dermayu/Indramayu. Gagasannya ini kemudian menempatkannya sebagai Pemuda Pelopor bidang pembangunan seni budaya dan pariwisata tingkat Provinsi Jawa barat dan nominator ke  2 di tingkat nasional tahun 1996-1997.

Selanjutnya Nurochman Sudibyo YS pun dikenal dengan sebutan sastrawan yang menghasilkan karya puisi, cerpen, esai dan catatan budaya. Ia dikenal pula sebagai Pembaca Puisi Kiseran, karena setiap membacakan puisi selalu dihiasi dengan suluk, tembang dan jawokan gaya irama tarling kiseran. Karena sering di undang ke berbagai kota dan daerah, Sejak itu ia pun diberi gelar Ki Tapa Kelana. Posisinya selain pembaca puisi di berbagai even juga diminati masyarakat Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal sampai Bekasi, utamaya di minta memberi kidungan Dermayonan ditambah dengan pembacaan puisi. Lagi lagi irama pengiringnyapun live  gamelan, suling atau rekaman yang ada di memori HP, CD dan Mp3. Kiseran sendiri maknanya adalah ungkapan cerita dalam bentuk tembang bernuansa sastra yang mengemukakan perasaan suka maupun duka secara bebas dengan laras tarling irama kiser.

Sejak tahun 2000 setiap datang hari ulang tahun Nurochman Sudibyo, MS&BI melakukan Pentas Malam Pembacaan Puisi Multimedia di kota Indramayu yang saat itu biasa disebut pembacaan puisi kiseran. Meski tanggal kegiatannya 24 Januari dan bertepatan dengan musim penghujan, namun acaranya selalu sukses walau digelar  di luar gedung, bahkan beberapa kali dilakukan di tengah sungai Cimanuk dan sekitarnya. Diantara pentasnya antara lain; “Perompak Indrajaya 2001, Aja Mbluya-2002, Perang Potret-2003, Waduk Bojong-2004, Mak Njaluk Mangan-2005, Gurit ‘44-2006, Blarak Sengkle -2007, Godong Garing Keterjang Angin-2008, Bahtera Nuh -2009, dan Pring Petuk Ngundang Sriti-2010”, semua di gelar di Kota Indramayu di bantaran Kali Cimanuk. Selain pentas di agenda tahunan di tahun 2006 MS&BI diundang untuk pentas “Negeri Cantik” di pembukaan Pameran seni lukis SP Hidayat di Musium Nasional Jakarta, dan di tahun 2008 Pentas “Negeri Para Pejuang” di pembukaan Pameran Tunggal seni lukis Karya Dirot Kadirah di gedung utama Galeri Nasional.

Mulai tahun 2010 hingga tahun 2013 banyak diundang pentas pembacaan Tarling Multimedia, diantaranya di Bojonegoro dengan Lakon Pangikat Serat Kawindra, di Kota Tegal dan Slawi dengan lakon yang sama Pangikat Serat Kawindra. Berikutnya diundang di Pentas sastra Kedai Lalang Jakarta dengan Lakon Pangikat Serat Kawindra, di Taman Siswa Yogyakarta dengan lakon Kupu Mabur  Golet Entung, di Komunitas Sastra Reboan dalam lakon Negeri Corong Renteng, di TIM dalam lakon Bintang Anak Tuhan, di Taman Budaya Surakarta “Pangikat Serat Kawindra”, di Indramayu “Kembang Suket”, di Pembukaan Art Semarang “Sintren Beken”, di Pasar Malam Jawa Tengah Semarang “Negeri Corong Renteng”, di Pati “Indonesia Kesurupan”, di PPIB kota Tegal “Sedulur Papat Lima Pancer”, di Cirebon “Tragedi Kurusetra”, di Pertemuan Sastrawan Nusantara Palembang “Negeri Corong Renteng”, di STSI Bandung “Negeri Corong Renteng” Pertemuan Sastrawan Makasar “Bersatu Pujangga Nagari Bhahari”, di Galeri Nasional “Sedulur Papat Lima Pancer”, Pembukaan Kongres Bahasa Jawa, di Surabaya dengan Lakon Negeri Corong Renteng,” di Slawi Kab. Tegal dipentaskan “Tumandhange Sinatria Bhayangkara”, dan berlanjut baru-baru ini menggelar pembacaan puisi Tarling Multi media dengan lakon: Puisi Menolak Korupsi dimulai di kota Blitar, Semarang, Surakarta, Jakarta dan Purworejo.

Selain memenuhi panggilan pentas besar dan kecil, sesuai dengan kemajuan zaman Medium Sastra & Budaya Indonesia pun menyajikan bentuk pemanggungan pembacaan puisi dengan tetap beriramakan Tarling, meski kadang diiringi musik gamelan, orkes keroncong, dangdut, organ tunggal, bahkan berbagai musik modern lainnya. Disebut multi media karena dalam pentas pembacaan puisinya kerap kali menggunakan berbagai media sebagai kekuatan pendukung, seperti; wayang kulit, wayang golek, wayang suket, wayang tutus, wayang kertas, wayang padi, wayang ikan asin, topeng, dan dihiasi pula dengan berbagai jenis tari klasik, kontemporer, seni lukis, dan property visual lainnya. ***

Pentas Sedulur Papat Lima Pancer di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki ini adalah undangan kedua setelah lakon ini sebelumnya digelar dalam puncak Pesta Festival Teater Indonesia di  Galerry Nasional 2012 lalu. Atas keberhasilan pentas tersebut ketua panitia Anugrah Seni Cipta Budaya 2013 Ari Batubara kembali mengundang Medium Sastra & Budaya Indonesia yang bersekretariat di Jl Jndral Sudiran 69 Indramayu untuk tampil menjadi salah satu dari 10 jenis kesenian hasil cipta budaya creator Indonesia.

Tarling Multi Media adalah nama yang diajukan pihak panitia mengingat Nurochman Sudibyo YS alias Ki Tapa Kelan selaku penyusun cerita dan sutradara pagelaran member kebebasan kepada audien yang menilai dan member nama. “ Saya pada intinya mempersembahkan sebuah pertunjukan baca puisi yang lain dari yang lain. Jika di Makasar kami disebut Wayang Tarling, Di Indramayu pentas Kiseran jika semata baca puisi saja. Pentas Wayang Gondrong ankala medianya beraneka macam. Pendek kata Pembacan kary sstra multi media adalh sebentuk cara mensosilissikn kary gabungn dari berbgi aspek puisi, gurit, mantra, jawokan, pantun, parikan dan seluruh unsure peninjang lain seperti seni rupa, seni musik dan seni drama. Semua itu tersaji dalam kekentalan tembang klasik yang berbuansakan tarling dn lagu-lagu bernafaskan dendang pantura.

Pentas Tarling Multimedia digelar persis di malam puncak penyerahan Anugrah Cipta Budaya dari atas nama Gubernur Jakarta melalui Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jakarta Bapak Ari Budhiman diberikan pada Ketua Medium Sastra & Budaya Indonesia  Nurochman Sudibyo YS.  Anugrah Cipta Budaya tersebut diraih atas dedikasi dan kesetiaannya menggeluti kesenian yang terus diperjuangkan hingga kini.

Floribertus Rahardi

Floribertus Rahardi atau F. Rahardi (lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, Indonesia, 10 Juni 1950; umur 63 tahun) adalah seorang penyair, wartawan, penulis artikel, kolom, kritik sastra, cerita pendek, dan novel. Pendidikan drop out kelas II SMA 1967, dan lulus ujian persamaan SPG 1969. Pernah menjadi guru SD, dan kepala sekolah di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Tahun 1974 ke Jakarta, dan alih profesi menjadi wartawan, editor serta penulis artikel/kolom di berbagai media. Pertama kali menulis puisi akhir tahun 1960an, dimuat di Majalah Semangat, dan Basis (Yogyakarta), serta Horison (Jakarta). Baru kemudian menulis artikel, kritik sastra, cerpen, dan novel.
Karya-karyanya antara lain: Kumpulan puisi Soempah WTS (1983), Catatan Harian Sang Koruptor (1985), Silsilah Garong (1990), Tuyul (1990) dan Pidato Akhir Tahun Seorang Germo (1997). Kentrung Itelile:Kumpulan Cerpen Manusia Singkong (1993). Kumpulan artikel Petani Berdasi (1994). Kumpulan renungan Menggugat Tuhan (2000). Prosa lirik Migrasi Para Kampret (1993), dan Negeri Badak (2007). Buku teknis pertanian Cerdas Beragrobisnis (2003), Agar Tanaman Cepat Berbuah (2007), dan Bercocok Tanam dalam Pot (2009). Buku lainnya Panduan Lengkap Menulis Artikel, Feature dan Esai (2006), dan Menguak Rahasia Bisnis Gereja (2007). Novel Lembata (2008), Ritual Gunung Kemukus (2008), dan Para Calon Presiden (2009).
Anugerah Pertama, tahun 1995, karya F.Rahardi yaitu Tuyul: Kumpulan Sajak mendapat penghargaan Hadiah Sastra Pusat Bahasa (sekarang bernama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia).
Anugerah Kedua, tahun 2009, karya F.Rahardi yaitu Negeri Badak: Sebuah Prosa Lirik mendapat Penghargaan SEA Award.[1] Penghargaan sastra SEA Award ini diserahkan langsung oleh Yang Mulia Putra Mahkota Putra Mahkota Kerajaan Thailand, Pangeran Maha Vajralongkorn pada Jumat malam, 9 Oktober 2009 di Mandarin Oriental, Bangkok, Thailand. Ia menerima plakat dan sejumlah uang. F. Rahardi menerima anugerah bergengsi itu berdasarkan bukunya Negeri Badak: Sebuah Prosa Lirik, suatu karya sastra yang tidak banyak digeluti oleh sastrawan lainnya. Sebelum Negeri Badak, F. Rahardi telah menulis prosa lirik dengan judul Migrasi Para Kampret. Baginya penghargaan tersebut merupakan suatu pengakuan terhadap bentuk karya sastra ini.[2]
Anugerah Ketiga, tahun 2009, karya F.Rahardi berjudul Negeri Badak: Sebuah Prosa Lirik yang telah memperoleh penghargaan SEA Award, ternyata juga mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa 2009.
Anugerah Keempat, pada 10 November tahun 2009, F Rahardi meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award atau Anugerah Sastra Khatulistiwa kesembilan digelar di Plaza Senayan, Jakarta, untuk kategori Prosa Terbaik dengan karya berjudul Lembata: Sebuah Novel.

Rg.(Ronggo) Bagus Warsono

Rg.(Ronggo) Bagus Warsono lebih dikenal dengan Agus Warsono, SPd.MSi,dikenal sebagai sastrawan dan pelukis Indonesia. Lahir Tegal 29 Agustus 1965. Ayahnya adalah Rg Yosoef Soegiono seorang guru keluarga Ronggo Kastuba dari Mangkunegaran Solo. Sastrawan Kelahiran Tegal ini besar di Indramayu. Mengunjungi SDN Sindang II, SMP III Indramayu, SPGN Indramayu, (S1) STIA Jakarta , (S2) STIA Jakata. Tulisannya tersebar di berbagai media regional dan nasional. Redaktur Ayokesekolah.com.Pengalaman penulisan pernah menjadi wartawan Mingguan Pelajar, Gentra Pramuka, Rakyat Post, dan koresponden di beberapa media pendidikan nasional. Anggota PWI Cabang Jawa barat. Menikah dengan Rafiah Ross hinga sekarang, anak-anak Abdurrachman M.
Rg Bagus Warsono dikenal sebagai penggerak minat baca masyarakat. Sejak kecil sudah gemar membaca, pada usia 10 tahun sudah menamatkan cerita bersambung Api di Bukit Menoreh karya SH Mintardja. Kegemaran membaca dilanjutakan dengan tulis menulis. Membuka taman bacaan masyarakat di Indramayu dan mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM) Indonesia di Indramayu.


Karya antara lain:
1. Rumahku di Tepi Rel Kereta Api (Kumpulan cerpen anak 1992)
2. Menanti hari Esok (antologi puisi)
3. Mata Air (antologi puisi)
4. Bunyikan Aksara Hatimu (BAH) (antologi puisi)
5. Si Bung (Bung Karn0) (antologi puisi)

 Antologi bersama :
 Puisi Menolak Korupsi (PMK II)

Cergam antara lain :
1. Si Kacung Ikut Gerilya
2. Kopral dali
3. Pertempuran Heroik Di Ciwatu
4. Pertempuran Selawe
5. Si Jagur
6. Panglima Indrajaya
7. Endang Dharma
8. Laskar Wiradesa

Apito Lahire

Apito Lahire (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 9 Desember 1974; umur 39 tahun) adalah seorang aktivis sastra dan teater di Jawa Tengah. Sejak duduk di bangku SMA dia telah menulis puisi, cerpen, cerbung, monolog, dan naskah drama. Kemampuannya lebih terasah setelah belajar di ASDRAFI dan ISI Yogyakarta. Sepulang dari kota budaya itu, ia segera "mencangkul ladang kreatifitas" dengan mendirikan KST - Teater Pawon bersama Julis Nur Hussein, Ufti Adenda Aulia dan beberapa rekan lainnya. Menyutradai dan bermain dalam pentas Teater Pawon berjudul The Tragedy of Peace, Sungsang, The Sound Millenium Man, dan Waiting for What (1999-2001). Tahun 1999 ia pernah melakukan teater jalanan (happening art) sejauh 15 km dari Monumen GBN Procot Slawi sampai ke Balaikota Tegal berjudul Kesaksian Dara Perempuanku.
Mendapat beasiswa ketika kuliah di ISI. Belajar kabuki (teater tradisional Jepang) pada Prof. Muriyama di Yokohama, Jepang. Deklamasi puisi jalanan dan happening art-nya dijadikan objek studi oleh Prof. Dr. Richard Curtis dari Northen Territory University (NTU) Darwin, Australia (2002). Ditetapkan sebagai sutradara terbaik dalam Festival Nasional Monolog Putu Wijaya yang diselenggarakan oleh STSI Bandung (2003). Apito tinggal di Langgen 1/1 Talang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Beberapa antologi yang memuat puisinya antara lain:
Nyanyian Fajar (Teater Kene Bali, 1993)
Serayu, Getar II, Jentera Terkasa (1998)
Juadah Pasar (2001)
Perjumpaan (Lare’s Dramatic Tegal, 2002)
Ning (Sanggar Purbacaraka Fakultas Sastra Universitas Udayanana Bali, 2002).
Mung: Antologi Puisi Tiga Penyair Lintas Pantura, bersama Julis Nur Hussein dan Usman Didi Khamdani (2004)